Social Icons

Featured Posts

Rabu, 02 Mei 2018

Renungan dalam Hari Pendidikan Nasional 2018

Pendidikan

Pernah ku dengar, bahwa pendidikan berarti sama artinya memberikan pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan kepada sekelompok orang.
Hingga beberapa waktu yang telah terlewati,
Menyadarkanku bahwa pendidikan tidak sebatas bangunan, yang disertai tembok-tembok pelindung dari dunia luarnya atau gubuk  yang disertai atap yang melindungi kita dari terik matahari dan hujan. Yang kita sebut sekolah.

Pendidikan itu lebih dari itu, lahannya terbentang luas.
Tidak ada batas dan tidak beratap yang hanya menjadi pengekang dan penghalau gerak.

Dan yang terlupa adalah :
Setiap dari kita itu pendidik untuk generasi anak-anak dan cucu-cucu kita.
Ini sebagai pengingat kita agar minimal memiliki satu hal baik yang dapat sebagai tauladan. Dan setiap dari kita masih bertanggungjawab tidak hanya atas kelangsungan hidup kita namun juga kelangsungan hidup anak cucu kita nanti.

Setiap dari kita juga adalah peserta didik dari lahir sampai nanti ke liang lahat.
Ini sebagai pengingat kita bahwa kita akan selalu dapat belajar di mana saja, kapan saja dan dalam keadaan apa saja bergantung sebagaimana hati dan jiwa kita sadar akan pelajaran yang berada di sekitar kita.
Ilmu tidak akan mengahampiri orang-orang yang sombong, sebagaimana air yang selalu bergerak.

Semoga pesan yang pernah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara selalu diingat, bahwa esensi dari memberikan pendidikan adalah untuk mencapai keselamatan dan rasa kebahagiaan.

Selamat
Hari Pendidikan Nasional

“Semoga jiwa kita selalu haus akan aliran ilmu dan hati kita selalu sadar akan tanggungjawab mengalirkan ilmu itu kembali”


Pendidik yang sedang dalam program untuk mendapat sertifikat pendidik :)


Rabu, 04 April 2018

Tentang yang Menunggu dan Mencari

Keduanya pada ruang waktu yang tidak sama.

Yang menunggu terlihat bersantai menghirup waktu.
Siapa yang dapat menerka ?.
Hatinya gundah ditelan keresahan dalam penantian.

anis saidah rahman

Yang mencari terlihat tergesa-gesa, berpacu dengan waktu.
Siapa yang sangka ?.
Jiwanya telah lelah menelan rasa kecewa berulang kali.

Baik menunggu dan mencari seakan menyiakan waktu,
Belum tentu juga yang dicari akan bertemu,
Dan yang ditunggu akan berjumpa.

Namun,
Mereka bersandar pada dinding yang sama, yaitu “kesabaran”.
Menggantungkan keyakinannya pada sang Maha.

Hingga sang waktu mendetakkan detik,
Saat yang menunggu diketemukan oleh yang mencari.
Detik itu akan tercipta ketika,
yang menunggu berani bergerak untuk dipilih.
Dan yang mencari berani berhenti untuk memilih.



                                                                                                                         Semarang, 27 Maret 2018

Senin, 09 Oktober 2017

Jejak Kenangan di Lereng Merapi


Liburan kali ini saya bersama Bapak/Ibu guru Gugus 4 Ranting PGRI Gemuh melakukan kegiatan jeda semester ke Yogyakarta. Lokasi yang kami kunjungi salah satunya adalah lereng Gunung Merapi. Kurang lebih pukul 12 siang kami sampai di lokasi Kali Urang. Dari Kali Urang kami menyewa mobil Jeep (harga Rp 350.000/ 4 orang)  untuk melanjutkan perjalanan melihat sisa-sisa kenangan hasil letusan Gunung Merapi beberapa tahun yang lalu (2204, 2006 dan 2010).
            
merapi anis saidah

     Perjalanan dimulai dari Kali Urang kemudian melewati beberapa desa yang terimbas langsung letusan Gunung Merapi. Diceritakan oleh sopir sekaligus pemandu kami (Pak Boymin) salah satu desa yang kami lewati adalah Desa Tangkisan. Desa ini sewaktu gunung Merapi meletus tidak terkena awan panas seolah-olah menangkis awan panas itu dan hanya membakar batas desa saja. Tidak ada kesengajaan, memang nama desa ini Tangkisan dan kebetulan saat kejadian letusan Gunung Merapi saat itu seolah menangkis awan panas seperti perisai. 

            Lain halnya dengan desa sebelahnya. Desa Petung langsung terkena awan panas dan menghanguskan pepohonan dan rumah warga. Di Desa Petung kami berhenti di salah satu bukti rumah yang terkena awan panas gunung Merapi. Terlihat dari bangunannya yang gosong serta beberapa dinding sudah rubuh. Bekas rumah ini sudah ditata sedemikian rupa guna kepentingan wisata sehingga mampu menceritakan kejadian yang memilukan waktu itu. Di dalam rumah juga dipajang berbagai benda-benda yang  tidak berbentuk seperti semula karena sudah terkena awan panas. Di dinding rumah juga sudah diberi keterangan foto-foto bagaimana ganasnya ketika sang Merapi memuntahkan isi perutnya.



            Kejadian letusan yang menghancurkan rumah ini terjadi tengah malam. Hal tersebut dibuktikan oleh beberapa jam dinding yang sudah penyok dan meleleh menunjukkan jarum pendek di angka 12 dan jarum panjang sekitar angka 3. Banyak foto yang dipasang di rumah ini juga menunjukkan keanehan-keanehan. Ada foto-foto “penampakan” wajah dan bentuk-bentuk lain pada awan panas gunung Merapi serta kondisi desa sebelum dan sesudah Mbah Marijan meninggal.
            Berbicara keanehan dan misteri, perjalanan dilanjutkan ke Batu Alien, begitu daerah itu disebutkan. Pak Boymin menceritakan kalau batu yang kami kunjungi adalah batu yang berasalah dari Gunung Merapi dan ikut terbawa arus lahar yang melewati Sungai Gendol kemudian terangkat ke tepi sungai. Julukan batu alien selain karena batunya yang sangat besar dan dapat terangakat ke tepi sungai, juga karena batu ini menunjukkan beberapa rupa wajah jika dilihat dari beberapa sudut yang berbeda. Dari wajah manusia, gorila, gajah dan singa. Letak batu ini tepat di tebing samping Sungai Gendol. Sungai Gendol sendiri adalah salah satu sungai yang menjadi jalur lahar dan awan panas ketika gunung Merapi meletus. Terlihat, sekarang banyak truk-truk pencari pasir yang menambang di sungai ini.


            Setelah puas menikmati pemandangan dari atas Sungai Gendol, kami melanjutkan perjalanan kembali. Sebelumnya kami diberi pilihan untuk memilih tujuan, akan ke Bunker  Kali Adem atau ke rumah Alm. Mbah Marijan. Kalau memilih keduanya maka akan dikenai biaya tambahan (± Rp 100.000). Rombongan di Jeep kami memutuskan untuk melihat keduanya. Mumpung sudah sampai di sini.  Akhirnya kami menuju ke Bunker Kali Adem terlebih dahulu. Di bunker ini ada peristiwa yang sangat memilukan. Bunker yang sejatinya sebagai tempat berlindung dari material letusan Gunung Merapi malah memakan korban. Memang tidak ada yang bisa menahan KuasaNya. Puas melihat ke dalam bunker yang gelap gulita, bergegas kami ke rumah Alm. Mbah Marijan karena kabut sudah mulai turun dan mendung sudah menggelantung di atas kami. 

            Belum sempat kami sampai ke rumah Mbah Marijan langit sudah menjatuhkan air matanya. Dengan gesit dan sigap Pak Boymin memasang penutup di Jeep yang kami tumpangi. Walau hujan turun cukup deras namun masih banyak pengunjung di rumah Alm. Mbah Marijan. Di area kediaman dipajang berbagai benda yang terkena awan panas. Salah satu yang paling mencolok adalah bangkai sebuah mobil. Terpampang pamflet besar yang menceritakan kronologis mobil tersebut terkena awan panas.


            Diceritakan bahwa mobil ini adalah milik dari wartawan namun ketika terjadi erupsi mobil ini menyakinkan warga Desa Kinahrejo untuk mau diungsikan. Akhirnya setelah diberi penjelasan oleh wartawan tersebut beberapa warga ikut turun bersama mobil. Karena kapasitas mobil yang tidak memungkinkan untuk menampung semua warga, maka mobil ini mesti kembali keatas lagi untuk menjemput warga. Namun belum sempat menjemput warga, awan panas telah menjemputnya terlebih dahulu bersama beberapa warga dan termasuk juru kunci Merapi, Alm. Mbah Marijan.
            Selain saksi berupa benda. Kami beruntung juga dapat menemui saksi hidup yang juga merupakan istri dari Alm. Mbah Marijan. Sebentar berbincang dan berfoto kemudian kami melanjutkan perjalan untuk kembali ke Kali Urang. Sebelum ke Kali Urang ternyata kami mampir terlebih dahulu ke sebuah sungai untuk merasakan sensasi offroad.  Berkali-kali kami dilewatkan medan yang terjal dan berbatu dan tentunya berair.
Bersama Istri Alm. Mbah Marijan 


Itulah sedikit cerita sebuah perjalanan yang sarat dengan perenungan dan bukti kebesaranNya. Beberapa kali bulu kuduk merinding ketika melihat foto-foto kejadian letusan Gunung Merapi, bukti-bukti hasil terjangan awan panas serta lokasi-lokasi yang memakan korban. 

Sabtu, 09 September 2017

Diantara Jeda

Antara lelah dan dilema
Dari mencari hingga menunggu

Antara harapan yang menjauh
Atau niat yang tak lagi tangguh

Antara peluh yang memburu
Atau semangat yang tak lagi menggebu

Aku mengambil waktu
Membiarkannya membisu
Mengheningkan relung
Menggulum renung

Aku menghela nafas
Memberi ruang bebas
Tuk langkah yang lebih lepas
atau berakhir pada pasrah

Aku dan waktuku
Diantara jeda harap dan kenang


                                                                            Sabtu Malam, 9 Sep 2017
                                                                            (HAORNAS)

Kamis, 06 Juli 2017

Rumus Excel untuk Guru (Ranking dan Usia)

Baru beberapa hari menjadi guru, saya menyadari bahwa skill kita dilapangan dituntut lebih dan siap sedia setiap saat. Salah satunya dimintai bantuan dalam bidang IT. Yang sering digunakan adalah microsoft excel. Banyak sekali administrasi sekolah dibuat dalam excel. Salah duanya adalah cara merangking dan mengetahui umur siswa.

RUMUS UNTUK RANKING
adapun cara atau langka-langkahnya membuatnya adalah:
1.  Cari nilai rata-rata (Average) dari mata pelajaran diatas rumusnya yaitu :
Pada cell H5 ketikan =AVERAGE(E5:G5) Selanjutnya tinggal di drag rumusnya kebawah sampai cell terakhir H24
Dari rata-rata maka kita bisa mengetahui rangking yaitu jika rata-rata tertinggi maka akan mendapat ranking satu dan seterusnya.
2.  Buat rumus ranking untuk kelas 2A terlebih dahulu caranya :
Pada cell I5 ketikan rumus =RANK(H5; H5:H14) Selanjutnya berikan tanda absolute ($) supaya tetap ketika kita tarik kebawah menjadi =RANK(H5;$H$5:$H$14) Selanjutnya tarik rumus ke bawah sampai Cell I14
3.  Buat rumus ranking untuk kelas 2B
Pada cell I15 ketikan rumus =RANK(H15; H15:H24) Selanjutnya berikan tanda absolute ($) supaya tetap ketika didrag menjadi =RANK(H15;$H$15:$H$24) Selanjutnya tarik rumus ke bawah sampai Cell I24
4.  Buat Rumus Ranking Keseluruhan
Pada cell J5 ketikan rumus =RANK(H5; H5:H24)  Selanjutnya berikan tanda absolute ($) supaya tetap ketika kita tarik kebawah menjadi =RANK(H5;$H$5:$H$24). Selanjutnya tarik rumus ke bawah sampai Cell J24.

RUMUS UNTUK USIA
Secara umum orang akan menghitung berapa usianya hanya dengan perkiraan pengurangan tahun. Namun pernahkah terbayang anda ingin menghitung berapa hari atau berapa bulan usia anda sekarang? Mungkin untuk yang menghitung berapa bulan mudah, tapi untuk menghitung berapa hari, itulah yang sulit, karena memang setiap bulan jumlah harinya tidak sama.

Semua masalah itu akan menjadi mudah jika menggunakan excel, dengan excel ini anda akan mengetahui berapa usia anda sekarang. Anda bisa mencari berapa usia anda dalam tahun, bulan atau hari secara detail. Hanya dalam waktu 5 menit, anda sudah akan mengetahui usia anda. Lantas bagaimana caranya? Simak tutorialnya berikut ini.
Menggunakan Rumus DATEIF
Untuk menghitung usia kita, kita akan menggunakan rumus DATEIF. Syntax rumus dari DATEIF ini adalah:  

=DATEDIF(Tanggal awal;Tanggal Akhir;”Jenis interval”)
Keterangan :
  1. Tanggal awal : tanggal lahir anda.
  2. Tanggal akhir : tanggal kapan anda akan menentukkan usia anda. Jika ingin mengetahui hari ini, tulis saja hari ini atau bisa juga dengan menggantinya denganTODAY().
  3. Jenis interval:
    • “d” : interval hari
    • “m” interval bulan
    • “y” interval tahun
    • “md” interval total jumlah jarak hari pada bulan dan tahun yang sama
    • “yd” interval jumlah total jarak hari pada tahun yang sama
    • “ym” interval jumlah total jarak bulan pada tahun yang sama.
Sekarang coba buatlah tabel usia anak Anda seperti di bawah ini :

Data Usia Anak di Excel
Data Usia Anak di Excel
Untuk mengisi sel D3 anda dapat memasukkan beberapa pilihan rumus berikut:
  • =DATEDIF(C3;TODAY();”d”) maka akan terlihat 1135 (dalam hari), tinggal di fill kebawah. Tapi coba kita modifikasi dengan memasukkan rumus berikut=""&DATEDIF(C3;TODAY();"D")&" Hari " maka akan terlihat 1135 Hari.
  • =DATEDIF(C3;TODAY();”m”) maka akan terlihat 43 (dalam Bulan). Tapi coba kita modifikasi dengan memasukkan rumus berikut=""&DATEDIF(C3;TODAY();"m")&" Bulan " maka akan terlihat 43 Bulan.
  • =DATEDIF(C3;TODAY();”y”) maka akan terlihat 3 (dalam Tahun). Tapi coba kita modifikasi dengan memasukkan rumus berikut =""&DATEDIF(C3;TODAY();"y")&" Tahun" maka akan terlihat 3Tahun.
  • Jika ingin lebih menarik dan kelihatan lebih professional, kita masukkan rumus berikut pada sell D3, yaitu =""&DATEDIF(C3;TODAY();"y")&" Tahun "&DATEDIF(C3;TODAY();"ym")&" Bulan "&DATEDIF(C3;TODAY();"md")&" Hari " maka akan terlihat lengkap seperti di bawah ini.
Menghitung Usia lengkap Tahun, Bulan, dan Hari dengan Excel
Menghitung Usia lengkap Tahun, Bulan, dan Hari dengan Excel
Tinggal anda fill kebawah dan lihat hasilnya. Anda sudah mengetahui berapa tahun, bulan dan hari usia anak anda. Mudah sekali bukan, silahkan langsung saja di coba. Nah sekian +Tutorial Excel Online  mengenai cara mengetahui usia kali ini, semoga ini bermanfaat bagi anda.



Perpisahan

Dunia ini seimbang kawan,
Ketika kau dipertemukan bersiaplah untuk dipisahkan.

Perpisahan itu tak mengenal waktu, ruang dan tempat.
Maka bersiaplah.
Bahkan tanda yang selalu kita yakini sebagai kata perpisahan juga tak selalu mengutarakan itu
Terkadang kata selamat tinggal tidak terucap bersama lambaian tangan.
Seringnya tanpa sadar ucapan terimakasih berpaut jabatan tangan
Atau terimakasih sebagai penutup paragraf adalah tanda yang tak kita sadari.

Terimakasih larut dalam kebahagian yang berujung perpisahan.
Terimakasih adalah bahagia semu yang berakhir pilu.

Ketika berucap terimakasih, sadar diri adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri dengan bahagia. Bukan selamat tinggal atau sampai jumpa.



Aku, Kamu atau Keduanya ?

Kamu yang tak bisa baca
Atau aku yang tak mahir menulis?
Hingga sejauh ini , tak ada kata yang mewakili

Aku yang tidak peka
Atau kamu yang suka tebar pesona ?
Sampai beribu percakapan, tapi masih begini saja

Kamu yang minder
Atau aku yang takut?
Atau harus menunggu orang ketiga
Untuk menghentikan kebisuan kita.

Dan setelah kita tak saling membisu
Kita pun sudah tidak tuli
Dan tidak buta
dan tidak mati
Waktu tlah berganti

Kita dengar rayuan yang kita ucap ke orang lain
Kisah yang diimpikan, terwujud dengan orang lain.
Telah tersadar membuang waktu menunggu

Terlambat,
Hati kita remuk dengan sendirinya
Yang tersisa hanya sebuah kata,
Seandainya...


 
Blogger Templates